Sedetik Mencintai, Bertaun-taun Melupakan

November 14, 2009 at 1:31 pm (Uncategorized)

Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.”

Cinta Sejati

Cinta Sejati

Begitulah sebuah bunyi sms yang masuk ke ponselku. Sejak nomor ponselku menjadi salah satu media korespondensi yang tertera di media tempatku bekerja. Hampir setiap minggu aku menerima berbagai macam keluhan dan curhatan. Dari mulai masalah keluarga, cinta hingga masalah pribadi yang kadang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Bahkan tak jarang ada beberapa diantaranya yang rela berjam-jam untuk curhat. Beberapa kali juga aku harus membeli nomor pribadi baru. Tapi, nggak tahu kenapa, nomor-nomor itu masih bisa bobol juga.

Lama-kelamaan aku pun mirip seperti psikolog. Psikolog….ha…ha… Jadi inget ama Eka Ryantika(Anak Psikologi USU), juniorku yang selalu menjadi dokter Psikolog setiap aku punya masalah. “Sekali, dua kali nggak apa-apa ya bang. Tapi, kalau sudah jadi pasien tetap, harus dibayar jugalah,” ungkapnya sambil tertawa.

Dari sekian banyak yang curhat kepadaku. Satu diantaranya yang cukup menarik perhatianku. Namanya aku sebut saja Lia(nama samaran). Umurnya di atasku dua tahun. Pertama sih aku memanggilnya mbak. Tapi kemudian disuruh manggil Lia saja.

Kalimat paling atas adalah bagian curhatan Lia kepadaku. Cinta… cinta yang tak pernah hilang selamanya. Begitu menurutnya. Awalnnya Lia hanya mengisahkan sedikit saja cerita tentang dirinya. Setelah aku pancing-pancing dengan berbagai pertanyaan, akhirnya ia pun mengisahkan derita cinta yang selama ini telah membuat dirinya frustasi. Seutas tali, dan juga sebilah pisau bahkan pernah terlintas dalam benaknya.

“Lia dulu saat masih SMP punya seorang kawan. Dia orangnya pintar dan cantik. Karena sering bertemu kami berdua pun akrab. Lama-kelamaan Lia suka sama dia,” cerita Lia mengawali kisahnya.

Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati

Ups…. Sebelum Lia melanjutkan kisahnya. Aku sempat tertegun dengan cerita awal ini. Aku pun terus mencoba menebak apa yang sebenarnya dialami oleh Lia. Dan aku pun mulai mereka-rekanya. Dan dugaanku benar. Lia lesbi.Menurut Lia, hanya beberapa orang yang mengetahui kalau dirinya lesbi. Dan salah satunya adalah Aku.

Cukup menarik apa yang diceritakan oleh Lia. Cintanya dengan Ria(aku juga samarkan namanya). Cewek cantik dan ayu, menurut penuturan Lia. Keluarganya yang broken home membuat kehidupan Ria agak terguncang. Ria seolah kehilangan orang-orang yang dicintainya. Hingga kemudian ia ketemu dengan Lia. Seringnya meluapkan rasa sedih, membuat keduanya terkena virus cinta.

Hingga akhirnya peristiwa yang tak terduga dialami oleh Lia. Karena sesuatu hal, Ria harus pindah sekolah. Cinta yang bersemi diantara sesema jenis cewek cantik ini pun bubar. Kandas di tengah jalan. Sejak saat itu, Lia benar-benar frustasi. Tak tahu apa yang harus ia lakukan.Beberapa kali ia sempat mencoba menyukai kaum adam. Tapi, perasaannya tak pernah bisa dihobongi. Ia hanya tertarik pada sosok perempuan.

Dan perasaan itu tak ada yang pernah tahu. Termasuk kedua orangtuanya. Hingga, peristiwa menyakitkan yang kedua kalinya menghujam kehidupannya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Seorang lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Apalagi ia cintai. Cinta sejatinya, menurut Lia hanya pada Ria.

Pernikahannya hanya bertahan selama satu minggu. Lia memutuskan untuk melarikan diri hingga sekarang ini. Menurut pengakuan Lia, suaminya belum sekalipun menyentuh tubuh mulusnya. Karena pada saat yang bersamaan, ketika malam pertama berlangsung, hingga beberapa hari kemudian. Tamu bulanannya datang berkunjung.

Jadi, hingga kini, sejauh pengakuan dirinya. Ia belum pernah melakukan hubungan intim. Ada keinginan baginya untuk melakukan itu. Tapi, tidak dengan orang yang tak dicintainya.

Tak ada seorang pun tahu keberadaan Lia. Kecuali dia dan aku. Karena Lia menceritakannya kepadaku. Di tempatnya bekerja, di sebuah daerah yang ada di Sumatera Utara memang Lia bergaul dengan lingkungan barunya. Tapi, sekali lagi tak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana kondisi dia sebenarnya.

Hanya satu keinginan Lia. Bisa berbagi suka dan duka kembali bersama dengan kedua orang tuanya yang sudah ditinggalkannya. Beberapa solusi pun aku berikan kepadanya. Intinya, aku memberikan saran agar dia terlebih dahulu meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Karena apapun yang terjadi selama ini dan yang akan datang. Orangtua merupakan modal utama dalam menjalankan kehidupan. Tak hanya sekedar menjadi kunci, tetapi juga jembatan. Mungkin ada kawan-kawan lain mau memberikan usul kepada Lia? Biar aku sampaikan kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: